Kisah kehilangan yang membangkitkan
![]() |
| Dok.pri |
Kalau belum jodoh, ya sudah, lupakan saja !
Hari hari berlalu terasa begitu cepat. Tidak terasa usiaku sudah menginjak yang ke 28 kala itu. Mama papa tentu sudah mulai 'gelisah'. Bagaimana tidak, tidak seperti kebanyakan anak perempuan lainnya yang mungkin sudah punya pacar, anaknya malah memilih memakai jilbab lebar dan aktif dikegiatan keislaman. Tentu saja itu baik, tetapi kekhwatiran mereka terhadap anak gadis pertamanya yang sudah hampir mendekati kepala tiga tentu jadi perhatian utama.
Seiring berjalannya waktu, datanglah seorang pria menyatakan diri ingin mempersunting anaknya. Ta'aruf pun digelar. Pertemuan calon mempelai, pertemuan dua keluarga dan pembahasan ini itu. Lalu sampailah pada satu momentum bahagia, akan melakukan prosesi lamaran.
Menjelang mendekati hari H lamaran, tetiba si calon mempelai pria menyatakan undur diri dari proses ta'aruf itu dengan alasan yang sangat unik. Merasa tidak cocok secara fisik. Katanya saya tidak cantik. Oh my God. Saya sakit hati sekaligus geli. kurang apa coba ??
Haha. Saya merasa
Good looking dan cukup smart. Pendidikan pun selesai S1. Saya aktifis di kampus dan cukup humoris terbukti punya banyak teman di mana saja. Setelah menerima kenyataan, saya merasa itu adalah alasan tidak berjodohnya kami. Untung tak dapat diraih, malang pun masih bisa ditolak dengan doa, akhirnya rencana pernikahan itu batal. Sakitnya tuh di sini (hati) dan itu pasti. Nyelekit pake banget. Tetapi saya mencoba ikhlas. Kalau tidak jodoh, ya udah, lupakan saja.
Sampai akhirnya tak lama berselang. Datanglah seorang pria sederhana. Tidak menjanjikan apa-apa. Hanya ketulusan dan rasa kasih sayangnya yang besar. Teramat sederhana dibandingkan yang pertama dan masih terbilang dalam pertalian sodara jauh keluarga kami. Dan dengan mengucap Bismillah serta Alhamdulillah, saya terima pinangan pria yang kedua ini.
Hari ini perjalanan pernikahan kami sudah memasuki usia 7 tahun. Alhamdulillah kami sudah dikaruniai sepasang anak yang Sholeh dan Sholehah. Benarlah, rupanya dia adalah lelaki yang dipilihkan Allah untuk hadir menemaniku di dunia ini. Beliaulah suami terbaik. Kasih sayangnya, pengertiannya dan dukungannya untukku selalu hadir menguatkan setiap langkahku. Andai saja sebelumnya saya terlarut dalam kesedihan karena penolakan si pria pertama, maka hari ini mungkin saya tidak bisa mensyukuri kehadiran pria yang menjadi suamiku hari ini.
Jadi, kehilangan tak selamanya menyakitkan. Justru pintu kebaikan yang melimpah ruah jika kita menerima kenyataan dengan lapang dada.
Weni Mustika
Tulisan di buku Antologi 3

Comments
Post a Comment