Berdamai dengan duka
![]() |
| Dok.pri |
Selalu ada CintaNya dalam setiap dukamu sayang
Hidup mungkin tak selamanya sempurna. Penuh lika liku perjalanan, maka ingin ku sebut namaNya disetiap gundah gulana kala mendera. Tapi terkadang sungguh tak kuasa, rasa sedih yang kadang merajai hati membuatku kelu hanya untuk sekedar tersenyum bahagia mengucap syukur atas pemberian tuhan dalam wujud yang lainnya.
Mungkin yang salah bukan pada ketetapan Tuhan atas diriku, tetapi pada kemampuanku yang sangat terbatas dalam memaknai kejadiannya hingga jauh dari kesempurnaan takdir Tuhan yang sebenarnya.
Ah... Entahlah.
Hatiku kembali berdebat dengan pikiranku seperti biasanya. Mencari pembenaran dan kesadaran akan kenyataan yang sebenarnya.
Duka itu dimulai saat saya kehilangan Putri pertamaku. Saya hamil yang disertai dengan pendarahan. Hanya bertahan hamil 6 bulan, akhirnya saya melahirkan bayi mungil yang cantik secara prematur. Saya beri nama Azizah Wildani. Tapi apalah daya, bayi prematur itu tak kuat hanya sekedar untuk bernafas dengan paru parunya. Dia kembali menjadi bidadari surga diusia 2 hari di dunia ini. Saya tersedu sedan. Merintih dalam pelukan erat suamiku. Bagaimana tidak, bidadari surga itu lahir di hari ulang tahun saya di tanggal 29 September. Sungguh kado terindah sekaligus terpahit bagi saya. Karena akan selalu menjadi kenangan yg indah sekaligus kepedihan yang sempurna saat hari itu datang setiap tahunnya.
Hari demi hari berlalu, saya pun tertatih bangkit dari duka itu, tak berselang lama Allah kembali memberikan kebahagiaan dengan penuh cinta. Alhamdulillah, saya hamil anak kedua. Kali ini lebih kuat, tidak lagi mengalami pendarahan selama hamilnya. Saya tentunya bahagia. Sangat bahagia. Mengeja hari hari dengan rasa sukur dan bangkit dari kesedihan sebelumnya.
Tak berselang lama saat hamil saya menginjak usia 4 bulan duka itu kembali hadir menghampiri dalam bentuk yang lain. Saya mendapat kabar bahwa mama di kampung sedang sakit. Mendengar kabar mama yang sedang sakit parah sementara saya yang tinggal berjauhan dengan beliau membuat saya kembali gundah gulana. Akhirnya kami putuskan pulang kampung. Dan ternyata takdir Allah begitu indah, mama dipanggilNya dan tutup usia saat itu juga.
Bagi logika manusia cerita ini mungkin serupa rolling coaster yang mengaduk aduk perasaan. Tapi bagi Tuhan, ini adalah takdir terindah bagi insan bernama Weni mustika. Dalam setiap duka itu ada cintaNya Allah. Hanya saja wujudnya mungkin berbeda. Semoga hati saya mampu menerjemahkan cinta itu dalam bentuk syukur menjalani setiap detik amanah hidup di dunia ini ke depannya.
Weni Mustika
Tulisan di buku Antologi 1

Comments
Post a Comment