Ketika Aku jatuh Cinta
![]() |
| Pixabay.com |
Mantan si penulis dan mencinta tulisan selamanya.
Ini adalah tema kelas menulis buku Antologi batch ke 23. Tema nya aaah... Aku jatuh cinta. Saya sempat bingung. Mau nulis apa soal jatuh cinta. Tak ingin tulisan umum berupa roman picisan yang sunatullahnya memang indah yang berbunga bunga, tapi kali ini saya mau menulis tentang jatuh cinta yang tidak biasa. Soal cinta yang dulu pernah bersemi kepada seorang penulis (dalam diam tentunya ðŸ¤) dan cinta kepada dunia tulis menulis setelahnya. aaah.. jadi bernostalgia. Kira kira jika suami tahu, marah tidak ya ? Hehe.
Saya adalah anak sulung dari lima bersaudara. Dari kelas empat SD suka membaca. Berbagai macam buku dari zaman itu. Sebutlah majalah Bobo, buku Trio Kwek Kwek, buku Deni manusia ikan, dll. Saya mengoleksinya sampai dapat satu lemari. Dan mama adalah sosok yang menginspirasi saya membaca kala itu. Beliau Suka membaca novel seri pendekar. Ada Wiro sableng dll. Hehe. Nah dari situlah akhirnya saya begitu menikmati aktifitas literasi. Membaca buku, menulis puisi, membuat cerpen, di buku tulis. Kebiasaan itu pun berlanjut sampai ketika saya jadi mahasiswa. Beberapa kali menantang diri untuk ikut lomba karya tulis ilmiah dan semacamnya dan menjuarainya. Ada kebahagiaan tersendiri saat tulisan itu lahir.
Sampai pada suatu waktu, saat saya masih jadi mahasiswa jurusan Sosiologi, saya mendapati sebuah majalah mini yang anti mainstream. Majalah yang tulisannya cadas mengkritik kapitalisme di tubuh pemerintahan. Tentu saat itu idealisme saya sedang membuncah. Wah tema baru yang seru nih pikir saya. Lalu kontak dan japri-japrianlah dengan si penulis, dimana saya mendapatkan nomor teleponnya dari majalah tersebut. ceritanya bertukar ide. Lalu disitu cinta pun bersemi di antara kami. Mengagumi ide dan buah pikir masing-masing. Walau dalam diam, indah tentunya tetapi malangnya tak sampai ke pelaminan. Hahaha
Kurang lebih 2 tahun saya menjadi kontributor majalah mini tersebut dan akhirnya kami berpisah. Sudah beda haluan rupanya. Beda kepala pasti beda isinya. Hehe akhirnya saya menjadi 'mantan' si penulis itu. Eits walau putus hubungan tetapi cinta saya kepada dunia literasi, membaca dan menulis akan selamanya saya jalani dan nikmagi dengan segenap jiwa raga. Ceileeehhh
Weni mustika
Buku antologi ke 8

Mantab Mnak Weni. Semangat terus, Mbak.
ReplyDeleteMakasih mba Haniing
ReplyDelete