Lebaran after pandemi
![]() |
| Pixabay.com |
Lebaran yang dicari.
Bagi setiap muslim, setelah berpuasa di bulan Ramadhan tentu yang ditunggu adalah hari yang Fitri. Hari dimana setiap insan kembali suci ke fitrahnya sebagai manusia sesungguhnya, sejati tujuan akhir dari ramadhan begitu ya. Namun makna tersebut menjadi sedikit lebih sederhana bagi anak anak muslim. Bagi anak anak yang masih polos, idul Fitri sangatlah berbeda dari hari biasanya. Bagi mereka lebaran adalah satu masa yang menggembirakan dimana mereka bebas makan enak berupa opor ayam bersama ketupat dengan memakai baju baru dan mendapatkan uang THR. Begitulah setidaknya mereka memaknainya dengan cara yang berbeda. Semua itu sudah kita lalui di bumi Pertiwi ini sejak kita lahir dan hidup di sini.
Namun ada yang tidak biasa sejak tahun 2020. Disaat wabah covid 19 meraja Lela dan menjadi pandemi di seluruh dunia, maka lebaran menjadi sesuatu yang asing dan berbeda. Tidak ada lagi sholat tarawih yang ramai di masjid masjid. Tidak ada lagi pawai obor saat malam idul Fitri. Tidak ada lagi open house saat idul Fitri bahkan tidak bisa lagi mudik berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Semua itu membuat kita bertanya tanya, dimanakah lebaran yang biasanya kita rayakan? Sesungguhnya kita sedang menanti lebaran yang dicari.
Sudah dua tahun berlalu. Sekarang tahun 2022. Dimana lebaran masih menyimpan wajah belum terlukiskan. Akankah hampa seperti dua tahun setelah wabah Covid 19 menyerang, atau lebaran kali ini mampu melukiskan senyum dan kebersamaan yang jauh lebih baik lagi? Beragam tanya masih bergelayut manja di ruang ruang pikiran setiap muslim. Sejatinya lebaran yang dicari adalah lebaran yang seperti biasa dulu kita menjalaninya. Penuh canda tawa, kesyukuran, kebahagiaan dan Rahmat yang berlimpah berkah. Senantiasa menjadi hari lebaran yang dicari untuk saat ini.
Weni mustika
Tulisan di Buku antologi ke 11

Comments
Post a Comment