Ramadhan di Negeri konoha
Ramadhan di negeri konoha.
Berangkat ke Jepang pertama kali waktu itu adalah ditahun 2013 dipertengahan bulan Maret. Niat ke sana adalah dalam rangka pendidikan lanjutan. Berbekal surat Letter of acceptance (LOA) dari seorang profesor, maka berangkatlah seorang gadis manis ke negeri orang. Hehe. Nuuun jauh dari kampung halamannya. Sendirian saja karena skema nya adalah jalur mandiri tanpa ditemani siapa pun. Kuat dan berani berbekal Bismillahi tawakkal tu alallah saja dan disertai oleh ridho orang tua akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 18 jam karena transit, akhirnya sampai jua ke negeri konoha.
Hari demi hari berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Visitasi kampus dan matrikulasi materi pun di jalani. Beberapa kegiatan mahasiswa sesama orang Indonesia pun diikuti. Alhamdulillah pertemuan dengan teman sesama negeri sendiri berhasil menguatkan tekad melanjutkan perjuangan sampai selesai. Maklum ini negeri para Konoha kawan. Dimana untuk sukses harus disiplin seperti samurai, agar bisa seperti Shogun harus harakiri kemalasan dan untuk bersantai harus bisa seperti ninja Hatori. Dan tentunya kalo mau irit harus makan satu nasi kepal saja. Hehehe
Tak lama berselang rupanya ramadhan pun menjelang. tentunya jauh berbeda dengan ramadhan di negeri sendiri. Jauh jauh hari iklan sirup pasti sudah banyak di tipi, tapi kali ini tidak ada iklan ramadhan sama sekali. Pun ketika ramadhan pun akhirnya tiba juga. Tanpa sambutan meriah ala Masyarakat mayoritas, ramadhan pun hadir dengan hikmat di hati setiap muslim di negara non muslim. Bismillah dengan menyebut nama Allah saya menguatkan tekad memulai ramadhan hari pertama. Bagaimana tidak, cuacanya cukup panas. Ini lagi memasuki musim panas. Jika keluar apartemen ada suhu 42 derajat yang akan menyapa dengan panjang puasa selama kurang lebih 18 jam karena Si matahari duluan muncul pada pukul 2 dini hari. saya pun kembali menelan ludah, membayangkan perjalanan panjang hari pertama ini. Akan Cukup lama pikir saya. Betapa nikmatnya puasa di negeri sendiri, batin saya pun meronta.
Setelah kegiatan ngampus berjalan normal seperti biasa, tibalah masanya untuk berbuka. Pukul 20.00 lewat. Omg. Ditengah lelah terutama haus yang meraja, air adalah menu berbuka yang paling utama. Sungguh nikmat. Akhirnya tanpa sadar tiga gelas air melalui tenggorokan tanpa terasa. Teman saya di sebelah yang Nihon Jin hanya melongo melihat saya begitu rakus menelan air sebanyak yang saya bisa. Setelah sedikit santai akhirnya saya menjelaskan bahwa saya muslim dan sedang puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Dia pun mencoba memahami penjelasan saya.
Malamnya adalah jadwal shalat tarawih. Shalat yang biasanya jika di Indonesia akan diramaikan oleh para jamaah sampai luber ke luar masjid. Sementara di sini, tidak akan ada sholat tarawih yang kilat. Tidak akan ada jajanan rakyat sepulang dari masjid, dll. Yang ada hanya sepotong sajadah yang tergelar di kamar setiap muslim saja. Akhirnya dari sini saya bisa merasakan, berjamaah itu adalah sesuatu yang luar biasa. Kenikmatan sebagai makhluk sosial yang diberi pahala 27 kali lipat oleh Allah SWT. Betapa indahnya kebersamaan maka peliharalah persatuan dan kesatuan bangsa ini agar menjadi negeri gemah Ripah loh jinawi.
Weni mustika
Tulisan antologi ke 9

Comments
Post a Comment